News

Gaspol 2026! Bupati Dony Ahmad Munir Spill Strategi “Sumedang Membumi” untuk Rakyat

12
×

Gaspol 2026! Bupati Dony Ahmad Munir Spill Strategi “Sumedang Membumi” untuk Rakyat

Share this article
Sumedang Membumi

hallosumedang – Mengawali tahun 2026, atmosfer di Lapangan Pusat Pemerintahan Sumedang (PPS) terasa sangat beda. Pasalnya, Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, baru saja memimpin Apel Gabungan ASN pada Senin (5/1/2026) dengan membawa misi besar. Tahun ini bukan lagi soal rencana cantik di atas kertas, tapi soal pembuktian kerja nyata lewat tagline baru yang sangat catchy: “Sumedang Membumi”.

Bupati menegaskan bahwa 2026 adalah tahun penguatan fondasi sekaligus pembuktian bahwa birokrasi Sumedang benar-benar hadir buat rakyat. Beliau ingin manfaat dari kepemimpinannya langsung menembus kehidupan warga secara nyata.

“Karena itu, saya ingin menegaskan arah besar tagline Sumedang Tahun 2026 dalam mewujudkan Visi Sumedang Simpati Semakin Maju Menuju Indonesia Emas 2045, yakni Sumedang Membumi, Kadeuleu, Karampa, Karasa,” ujar Bupati.

Apa Sih Maksud “Membumi”?

Menurut Bupati Dony, istilah “Membumi” punya arti bahwa kebijakan pemerintah nggak boleh cuma mentok jadi dokumen perencanaan yang numpuk di meja kantor. Beliau menuntut para pejabat struktural untuk sering-sering “turun ke bawah” alias blusukan agar tahu kondisi real di lapangan.

“Sebagai pejabat struktural, Bapak dan Ibu harus turun ke lapangan, mendengar keluhan rakyat secara langsung, bukan hanya melalui laporan. Dari sanalah kebijakan yang berempati dan bernurani dapat diambil. Seorang pemimpin harus dekat dengan persoalan nyata di masyarakat,” tegasnya.

Membedah 3 Pilar: Kadeuleu, Karampa, Karasa

Tagline Sumedang Membumi ini punya tiga prinsip filosofis yang jadi indikator kerja para ASN di tahun 2026:

  • Kadeuleu (Terlihat): Kinerja pemerintah wajib terlihat fisiknya dan dirasakan prosesnya. Pelayanan harus pasti dan nggak boleh ada lagi proyek abal-abal yang cuma sekadar buat “menggugurkan anggaran”.
  • Karampa (Tersentuh/Cepat): Prinsip ini soal kecepatan. Bupati nggak mau ada pelayanan yang berbelit-belit atau koordinasi antar-dinas yang lambat. “Birokrasi yang lambat adalah ketidakadilan baru bagi masyarakat,” tutur beliau.
  • Karasa (Terasa): Ini adalah indikator tertinggi. Keberhasilan pemerintah bukan dilihat dari seberapa besar serapan anggaran, tapi dari seberapa sejahtera petani, seberapa maju UMKM, dan seberapa sehat anak-anak di Sumedang.
See also  Pengusaha Tembakau Audensi dengan Wabup Sumedang

“Bukan soal banyaknya kegiatan atau besarnya anggaran, tetapi apakah petani lebih sejahtera, UMKM tumbuh, investasi semakin mudah, anak-anak lebih sehat dan berpendidikan, serta layanan publik semakin baik. Jika rakyat belum merasakan manfaatnya, maka kita belum berhasil,” ungkap Bupati.

ASN Harus Jadi Role Model

Di akhir arahannya, Bupati Dony mengajak seluruh ASN di lingkungan Pemkab Sumedang untuk upgrade integritas dan keteladanan. Beliau ingin semua pegawai mulai bekerja dengan niat yang tulus agar setiap langkah yang diambil benar-benar menghasilkan impact positif bagi masyarakat luas.

“Saya ucapkan selamat bekerja dan selamat mengabdi. Mari kita awali Tahun 2026 dengan niat yang lurus, langkah yang kuat, dan kerja yang benar-benar berdampak bagi masyarakat,” pungkasnya.

Menuju Sumedang yang Lebih Nyata

Tagline Sumedang Membumi adalah kode keras bahwa pemerintah ingin lebih dekat dengan realitas warganya. Dengan mengedepankan prinsip Kadeuleu, Karampa, dan Karasa, Sumedang optimis bisa mencetak sejarah baru dalam pelayanan publik yang lebih responsif dan solutif menuju Indonesia Emas 2045.