News

Pembangunan Sumedang Berbasis Budaya Sunda

1
×

Pembangunan Sumedang Berbasis Budaya Sunda

Share this article
Pembangunan Berbasis Budaya Sunda
Sarasehan Tahun Baru 2026 bertajuk “Gunem Alam dan Budaya Tatar Sunda, Bersama Bos Urip” di Gedung Negara, Sabtu (24/1/2026).

hallosumedang – Pernah kepikiran nggak sih, kenapa pelayanan publik di Sumedang bisa dinobatkan sebagai yang terbaik se-Indonesia? Jawabannya bukan cuma soal teknologi canggih, tapi karena mereka punya “akar” yang kuat. Pemerintah Kabupaten Sumedang lagi membuktikan kalau pembangunan berbasis budaya Sunda adalah kunci sukses buat bikin daerah makin maju.

Saat membuka acara Sarasehan 2026 bertajuk “Gunem Alam dan Budaya Tatar Sunda” di Gedung Negara, Sabtu (24/1/2026), Wakil Bupati Sumedang, M. Fajar Aldila, membagikan rahasia dapur tata kelola pemerintahannya.

Filosofi Sunda: Bukan Sekadar Slogan

Wabup Fajar menjelaskan kalau nilai-nilai Sunda seperti Cageur (sehat), Bageur (baik), Bener (benar), Pinter (pintar), dan Singer (mawas diri/terampil) sudah diadaptasi langsung ke dalam sistem kerja birokrasi. Hasilnya? Sumedang sukses meraih Indeks Pelayanan Publik terbaik di tingkat nasional. Keren banget, kan?

“Kita punya nilai-nilai budaya Sunda yang sudah jadi bagian dari tata kelola pembangunan. Ini yang bikin kita unggul,” ujar Wabup Fajar di depan sekitar 200 peserta dari berbagai kota di Jawa Barat.

Sumedang Membumi di Tahun 2026

Memasuki tahun 2026, Pemkab Sumedang punya tagline baru yang asik banget: Sumedang Membumi. Artinya, setiap program yang dibuat pemerintah nggak boleh cuma bagus di atas kertas, tapi harus “terlihat, teraba, dan terasa” manfaatnya langsung oleh warga.

Wabup juga mengingatkan kalau alam dan budaya itu paket lengkap yang nggak bisa dipisahkan. Kalau alamnya rusak, peradaban manusia juga bakal terancam. Makanya, setiap kebijakan pembangunan di Sumedang sekarang harus menghormati alam dan menjadikannya sebagai penuntun.

Kolaborasi Lintas Daerah

Acara sarasehan ini nggak cuma dihadiri warga lokal, tapi juga para pemerhati lingkungan dan budayawan dari 12 kota/kabupaten di Jawa Barat. Ketua pelaksana, Asep Maher, menyebut kalau ini adalah “panggilan jiwa” buat kembali mencintai dan merawat identitas Sunda.

See also  Optimalkan PAD, Wabup Edukasi Langsung Wajib Pajak

Harapannya, pertemuan ini nggak cuma berakhir di meja diskusi, tapi menghasilkan langkah nyata dan jejaring yang kuat buat menjaga kelestarian alam dan budaya untuk generasi kita nanti.

Menurut kamu, nilai budaya Sunda mana sih yang paling penting buat diterapin dalam kehidupan sehari-hari anak muda zaman sekarang?