Ekonomi

Produktivitas Tembakau Sumedang Didorong Naik Lewat DBHCHT

0
×

Produktivitas Tembakau Sumedang Didorong Naik Lewat DBHCHT

Share this article

hallosumedang – Produktivitas tembakau Sumedang lagi jadi fokus utama pemerintah daerah. Lewat Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP), berbagai langkah terus didorong supaya hasil pertanian makin maksimal, terutama di sektor tembakau yang punya kontribusi besar buat ekonomi daerah.

DPKP Kabupaten Sumedang nunjukin keseriusannya buat ningkatin produktivitas tembakau Sumedang lewat program yang didukung Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Program ini bukan sekadar wacana, tapi langsung diwujudkan lewat penyaluran bantuan ke para petani.

Bantuan yang dikasih pun nggak tanggung-tanggung. Mulai dari pupuk, pestisida, sampai alat pertanian pascapanen ikut disalurkan. Tujuannya jelas, supaya petani bisa ningkatin kualitas dan kuantitas hasil panen mereka tanpa harus terkendala fasilitas.

Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala DPKP Kabupaten Sumedang, Tono Suhartono, melalui Kepala Bidang Perkebunan Ir. Sunsun Gartini saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Jumat, 10 April 2026. Dalam penjelasannya, Sunsun menegaskan kalau tembakau bukan komoditas biasa.

Menurutnya, tembakau sudah terbukti jadi salah satu penyumbang pendapatan daerah yang signifikan, terutama lewat DBHCHT. Artinya, sektor ini bukan cuma penting buat petani, tapi juga punya dampak luas buat pembangunan daerah.

“Selain berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi masyarakat, usaha pertanian tembakau ini telah memberikan dampak yang luar biasa bagi PAD Sumedang, khususnya melalui DBHCHT,” kata Sunsun.

Pernyataan itu makin memperjelas kenapa pemerintah daerah nggak setengah-setengah dalam mendukung sektor ini. DPKP terus berupaya menjaga bahkan meningkatkan produktivitas tembakau Sumedang dengan berbagai strategi, salah satunya lewat bantuan langsung ke petani.

Bantuan pupuk dan pestisida jadi salah satu fokus utama. Dua hal ini memang krusial dalam proses budidaya, karena sangat berpengaruh terhadap kualitas tanaman. Selain itu, DPKP juga memperhatikan tahap pascapanen yang sering kali jadi titik lemah dalam rantai produksi.

See also  Deklarasi Komitmen Asosiasi Fasilitator dan Konsultan Lingkungan Sosial Berkelanjutan Indonesia (AFILIASI ESG INDONESIA)

Makanya, bantuan alat seperti pisau rajang dan fasilitas rumah pengering tembakau juga ikut disalurkan. Dengan adanya fasilitas ini, petani bisa mengolah hasil panen dengan lebih optimal, sehingga nilai jualnya juga bisa meningkat.

Sunsun menjelaskan bahwa bantuan ini bukan sekadar program rutin, tapi bentuk nyata komitmen Pemkab Sumedang dalam mendukung petani tembakau. Program DBHCHT dimanfaatkan secara maksimal agar dampaknya benar-benar terasa di lapangan.

Ia juga berharap bantuan ini bisa jadi pemicu semangat bagi para petani untuk terus meningkatkan hasil produksi mereka. Dengan dukungan yang tepat, sektor tembakau diyakini bisa terus berkembang dan memberi manfaat lebih luas.

Untuk tahun 2026, bantuan yang disalurkan cukup variatif. Pupuk dan pestisida diberikan kepada 10 kelompok tani. Sementara itu, bantuan pisau rajang lengkap disalurkan ke 13 kelompok tani. Tidak hanya itu, dua kelompok tani juga mendapatkan bantuan rumah pengering tembakau.

Distribusi bantuan ini menunjukkan bahwa program DBHCHT dijalankan dengan perencanaan yang cukup matang. Setiap jenis bantuan disesuaikan dengan kebutuhan petani di lapangan, jadi nggak asal bagi-bagi.

Dengan adanya dukungan ini, para petani diharapkan bisa lebih produktif dan efisien dalam mengelola usaha pertanian mereka.

Dampaknya tentu nggak cuma dirasakan petani, tapi juga buruh tani dan masyarakat sekitar yang ikut bergantung pada sektor ini.

“Semua bantuan ini, sebagai bentuk dukungan kami untuk mendorong peningkatan produktivitas pertanian tembakau di wilayah Kabupaten Sumedang. Semoga bantuan ini, dapat memberikan dampak positif untuk kesejahteraan masyarakat, khususnya petani dan buruh tani tembakau,” tutur Sunsun.***