hallosumedang – Isu Resolusi Alam dan Budaya Tatar Sunda bukan sekadar wacana kosong. Dari Sumedang, gagasan ini disuarakan sebagai pengingat bahwa manusia nggak bisa seenaknya mutusin hubungan sama alam. Kalau itu terjadi, budaya juga ikut goyah.
Praktisi budaya dari Aleutan Incu Putu Pangauban Ageung Cimanuk, Asep Maher menyatakan, ketahanan budaya tidak mungkin terwujud jika manusia memutus hubungan dengan alam.
Menurut Asep, budaya yang menempatkan alam sebagai lawan pada akhirnya cuma bakal melahirkan masalah baru. Cara pandang yang eksploitatif bikin keseimbangan rusak, dan dampaknya balik lagi ke manusia.
Menurutnya, kebudayaan yang memosisikan alam sebagai musuh pada akhirnya akan berujung pada bencana kehidupan.
Ia menyoroti krisis ekologis global yang makin nyata. Perubahan iklim, bencana alam, dan kerusakan lingkungan bukan kejadian random. Semua itu lahir dari pola kebudayaan arus utama yang terlalu fokus mengeksploitasi alam tanpa mikir dampak jangka panjang.
Asep menilai, krisis ekologis global, termasuk perubahan iklim yang mengancam seluruh makhluk hidup, merupakan dampak dari kebudayaan arus utama yang eksploitatif terhadap alam.
Fenomena ini nggak cuma terjadi di level global. Indonesia juga merasakannya dalam skala nasional yang makin mengkhawatirkan.
Kondisi tersebut, kata Asep, juga dirasakan di Indonesia dalam skala nasional yang kian mengkhawatirkan.
Bagi Asep, kerusakan lingkungan hari ini seperti alarm keras. Alam seakan melayangkan protes terbuka terhadap cara manusia membangun dan menjalankan kebudayaannya.
Kerusakan lingkungan menjadi “gugatan terbuka” terhadap kebudayaan yang sedang dijalankan manusia saat ini.
Dalam pandangannya, Indonesia sebagai sebuah kebudayaan berdiri di atas struktur yang berlapis. Lapisan itu berpuncak pada kebangsaan, kenegaraan, dan keekonomian.
Semua saling berkaitan dan nggak bisa dipisahkan.
Asep menjelaskan, Indonesia sebagai sebuah kebudayaan dibangun dalam struktur berlapis yang berpuncak pada kebangsaan, kenegaraan, dan keekonomian.
Kebangsaan jadi fondasi utama. Dari situ lahir negara. Lalu negara punya peran menghadirkan kesejahteraan bersama lewat sistem kenegaraan dan ekonomi yang berjalan.
Kebangsaan menjadi fondasi utama yang melahirkan negara, sementara kenegaraan berfungsi menciptakan kesejahteraan bersama.
Dalam kerangka itu, kebangsaan bukan cuma soal simbol atau identitas administratif. Kebangsaan adalah kesatuan tanah air, tradisi, dan kepemimpinan yang bijaksana. Ada nilai, ada etika, dan ada cara pandang terhadap alam yang seharusnya dijaga.
Dalam kerangka itu, kebangsaan dimaknai sebagai kesatuan tanah air, tradisi, dan kepemimpinan yang bijaksana.
Di titik ini, konsep Resolusi Alam dan Budaya Tatar Sunda menemukan relevansinya. Asep menegaskan bahwa Sunda sebagai kebangsaan memuat nilai keselarasan antara alam dan budaya. Harmoni jadi kata kunci.
“Sunda sebagai kebangsaan adalah keselarasan antara alam dan budaya. Inilah makna Tatar Sunda, sebuah ruang hidup yang menyatukan nature and culture,” ujar Asep saat Sarasehan bertajuk Gunem Alam dan Budaya Tatar Sunda, Bersama Bos Urip di Gedung Negara, beberapa waktu lalu.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam forum sarasehan yang mengangkat tema hubungan alam dan budaya Tatar Sunda. Ruang diskusi tersebut jadi momentum refleksi bersama, terutama di tengah kondisi lingkungan yang makin tertekan.
Buat Asep, Tatar Sunda bukan sekadar wilayah geografis. Tatar Sunda adalah ruang hidup. Di dalamnya ada nilai, tradisi, dan filosofi yang menempatkan alam sebagai mitra, bukan objek eksploitasi. Kalau relasi ini rusak, maka identitas budaya juga terancam.
Gagasan yang ia suarakan bukan ajakan romantis kembali ke masa lalu. Ia justru mengajak publik melihat ulang arah pembangunan dan pola pikir yang selama ini berjalan. Apakah sudah selaras dengan alam, atau justru mempercepat kerusakan?
Lewat narasi Resolusi Alam dan Budaya Tatar Sunda, Asep mengingatkan bahwa krisis ekologis bukan cuma isu lingkungan, tapi juga krisis kebudayaan. Saat budaya kehilangan nilai keselarasan, alam jadi korban pertama.
Dari Sumedang, pesan itu digaungkan: kalau ingin budaya tetap kuat, manusia harus memperbaiki relasinya dengan alam. Tanpa itu, ketahanan budaya hanya jadi slogan.
Pada akhirnya, Resolusi Alam dan Budaya Tatar Sunda bukan sekadar tema diskusi. Ia jadi refleksi bersama bahwa masa depan Tatar Sunda, bahkan Indonesia, bergantung pada kemampuan kita menjaga harmoni antara alam dan budaya













