hallosumedang – Program Makan Bergizi Gratis di Sumedang bukan cuma soal bagi-bagi makanan. Di balik itu, ada strategi besar buat ngedorong ekonomi daerah. Lewat penguatan Mitra Dapur MBG, Pemkab Sumedang pengin dapur-dapur ini jadi motor penggerak ekonomi lokal, bukan sekadar tempat produksi makanan.
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, meminta Forum Komunikasi Mitra MBG (FKM MBG) berperan dalam penguatan dan mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sumedang.
Menurutnya, forum ini punya posisi strategis. Bukan cuma buat ngejalanin program pemerintah, tapi juga jadi bagian dari upaya nyiapin generasi sehat dan berkualitas. Artinya, dapur MBG itu punya efek jangka panjang.
Dony menilai, keberadaan forum tersebut memiliki makna strategis. Tidak hanya dalam mendukung program pemerintah, tetapi juga sebagai upaya membangun generasi yang sehat dan berkualitas.
Ia nggak mau pengelolaan dapur cuma formalitas. Harus serius dan profesional. Karena urusannya bukan sekadar logistik, tapi masa depan anak-anak.
Dony menekankan, pengelolaan dapur MBG harus dilakukan dengan kesungguhan dan profesionalisme, bukan sekadar menjalankan kewajiban administrasi.
Menurutnya, penyediaan makanan bergizi bagi anak-anak merupakan investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa.
“Pengelolaan dapur harus dimaknai sebagai bagian dari tanggung jawab moral untuk memperkuat generasi mendatang melalui pemenuhan gizi yang baik,” ujarnya.
Dari sisi manajemen, Bupati juga dorong forum ini jadi ruang kolaborasi yang aktif dan produktif. Bukan cuma kumpul-kumpul, tapi benar-benar jadi tempat upgrade kapasitas pengelola dapur.
Dony menegaskan, pentingnya forum sebagai ruang kolaborasi produktif.
FKM MBG, diharapkan menjadi tempat berbagi pengalaman, meningkatkan kapasitas pengelola.Selain itu, memastikan seluruh persyaratan operasional dapur terpenuhi. Termasuk, kelengkapan perizinan seperti SLHS.
Koordinasi juga jadi kunci. Mitra dapur, SPPG, dan Satgas MBG diminta solid. Kalau ada masalah, diselesaikan bareng, bukan saling lempar tanggung jawab.
Dony juga menyoroti pentingnya koordinasi erat antara mitra dapur, SPPG, dan Satgas MBG agar setiap persoalan dapat diselesaikan secara bersama-sama.
“Yang utama, adalah saling menguatkan, bukan saling menyalahkan. Forum ini harus menjadi ruang yang solutif dan aplikatif,” tegasnya.
Menariknya, penguatan Mitra Dapur MBG ini juga dikaitkan dengan arah kebijakan nasional. Dalam kesempatan itu, Bupati menyampaikan arahan Presiden Prabowo Subianto soal peran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Koperasi ini diarahkan jadi pemasok bahan baku dapur SPPG. Jadi rantai pasoknya jelas: masyarakat produksi, koperasi distribusi, dapur olah, anak-anak konsumsi.
Pemkab Sumedang, kata Dony, tengah menyusun skema agar potensi lokal dapat terserap optimal melalui koperasi tersebut.
“Kami ingin, KDKMP menjadi penghubung antara masyarakat sebagai produsen dengan dapur sebagai pengguna. Ketersediaan dan kesinambungan pasokan harus terjamin,” jelasnya.
Skema ini kalau jalan mulus, efeknya gede. Petani dan pelaku usaha lokal punya pasar tetap. Dapur dapet bahan baku stabil. Ekonomi desa ikut gerak. Program sosial pun jadi punya dampak ekonomi nyata.
Sementara itu, Ketua FKM MBG Kabupaten Sumedang, Oom Supriatna, menjelaskan, forum ini dibentuk sebagai wadah koordinasi dan sinergi para pemilik serta pengelola dapur MBG di daerah.
Forum tersebut, tidak hanya berfungsi sebagai ruang komunikasi. Tetapi juga, sebagai sarana menghimpun potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam untuk menunjang operasional dapur secara berkelanjutan.
Artinya, forum ini nggak cuma ngobrolin teknis dapur. Mereka juga mikirin keberlanjutan, mulai dari tenaga kerja sampai bahan baku lokal. Konsepnya jelas: dari warga, oleh warga, untuk warga.
Menurut Oom, FKM MBG berkomitmen mendukung kesuksesan program MBG sekaligus mendorong tumbuhnya ekonomi kerakyatan melalui pelibatan masyarakat lokal.
Oom menegaskan, forum tersebut diharapkan mampu membuka peluang kerja baru serta meningkatkan kesejahteraan anggota dan masyarakat secara luas.
“Kami ingin berkontribusi dalam pembangunan daerah, menciptakan lapangan pekerjaan, serta turut menyukseskan program Presiden,” ujarnya.
Kalau ditarik benang merahnya, penguatan Mitra Dapur MBG ini bukan cuma tentang makanan bergizi gratis. Ini tentang ekosistem ekonomi lokal. Dapur jadi titik temu antara kebijakan sosial dan pemberdayaan ekonomi.
Kalau manajemen rapi, pasokan lokal kuat, dan kolaborasi jalan, Mitra Dapur MBG bisa jadi model bagaimana program pemerintah bukan cuma habis di anggaran, tapi benar-benar muter balik jadi pertumbuhan ekonomi di daerah.













