hallosumedang – Ramadan tahun ini terasa beda di Sumedang. Lewat event Cepot Ngabuburit, suasana sore jelang buka puasa di Geoteater Rancakalong Sumedang jadi makin hidup. Bukan cuma nunggu adzan, tapi sekalian nikmatin seni tradisi yang dibungkus dengan nuansa dakwah.
Suasana Ramadan di Geoteater Rancakalong di Kabupaten Sumedang semakin semarak dengan gelaran “Cepot Ngabuburit”, Sabtu sore, beberapa waktu lalu.
Kegiatan ini, menjadi bagian dari penguatan Ekosistem Budaya Kasumedangan yang kini telah memasuki pekan ke-15.
Artinya, acara ini bukan event dadakan. Ekosistem budaya ini sudah jalan konsisten tiap Sabtu dan terus ngasih panggung buat seniman lokal. Ramadan jadi momentum buat ngemasnya lebih religius tanpa ninggalin akar budaya.
Acara ngabuburit tersebut, menghadirkan pertunjukan wayang golek dengan tokoh Cepot yang dibawakan Dalang Ajang Rozikin dari Sanggar Hanjuang Sukma Nagara, bersama Dian Sukmara.
Tokoh Cepot sendiri udah jadi ikon wayang golek Sunda. Karakternya jenaka, ceplas-ceplos, tapi selalu nyelipin pesan moral. Di tangan dalang, cerita bisa relate sama kondisi kekinian, jadi penonton nggak cuma ketawa tapi juga mikir.
Kegiatan ini, turut dihadiri Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir yang memberikan apresiasi atas konsistensi pengelola Geoteater dalam merawat dan mengembangkan budaya lokal.
“Apresiasi untuk pengelola Geoteater Rancakalong yang terus konsisten menyelenggarakan ekosistem budaya Sumedang. Yang kini, disesuaikan dengan momentum bulan puasa,” ujar Dony.
Menurutnya, konsep ngabuburit kali ini nggak berhenti di hiburan. Ada nilai dakwah yang ikut dibawa lewat dialog dan alur cerita wayang. Jadi pesan agama masuk secara halus, nggak terasa menggurui.
Menurutnya, konsep ngabuburit yang dihadirkan tidak hanya menyuguhkan hiburan seni tradisi, tetapi juga mengandung nilai dakwah.
Pesan-pesan keislaman disampaikan secara kreatif melalui dialog dan lakon wayang, menekankan bahwa budaya dan Islam dapat saling menguatkan serta berjalan beriringan.
Ini jadi contoh konkret kalau budaya lokal dan nilai religius bisa jalan bareng. Nggak harus dipertentangkan. Justru ketika digabung, dampaknya lebih kuat ke masyarakat.
“Di bulan Ramadan ini, mari kita isi dengan kegiatan yang positif. Ngabuburit harus lebih bermakna, bermanfaat, dan berdampak,” kata Dony.
Pesan itu relevan banget. Ramadan sering identik dengan ngabuburit di jalan atau nongkrong biasa. Lewat Cepot Ngabuburit, masyarakat diajak nikmatin waktu sore dengan cara yang lebih berisi.
Ia menambahkan, Ekosistem Budaya Kasumedangan yang rutin digelar setiap Sabtu menjadi ruang aktualisasi bagi para seniman dan budayawan lokal.
Melalui panggung tersebut, berbagai potensi kreatif masyarakat Sumedang terus ditampilkan dan dikembangkan.
Artinya, panggung ini bukan cuma buat hiburan penonton. Ini juga ruang tumbuh buat pelaku seni. Dalang, nayaga, kru, sampai komunitas kreatif dapet kesempatan tampil dan berkembang.
Secara nggak langsung, kegiatan seperti Cepot Ngabuburit ikut menjaga keberlanjutan seni tradisi. Generasi muda bisa lihat langsung pertunjukan wayang golek, bukan cuma tahu dari cerita atau video pendek di media sosial.
Gelaran “Cepot Ngabuburit” pun menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat dikemas selaras dengan nilai-nilai religius.
Menghadirkan hiburan yang mendidik sekaligus memperkuat identitas budaya daerah di tengah masyarakat.
Kalau ditarik lebih luas, event ini nunjukin satu hal: budaya lokal tetap relevan di era sekarang, asal dikemas kreatif dan kontekstual. Ramadan jadi momen strategis buat ngebuktiin itu.
Lewat Cepot Ngabuburit, Geoteater Rancakalong bukan cuma jadi tempat pertunjukan, tapi juga ruang pertemuan antara tradisi, dakwah, dan masyarakat. Harmoni budaya dan nilai keislaman terasa natural, nggak dibuat-buat.
Ke depan, konsep seperti ini bisa jadi model ngabuburit yang lebih bermakna. Bukan cuma nunggu waktu berbuka, tapi juga nambah wawasan, memperkuat identitas, dan menjaga warisan budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman.
BACA JUGA: Bupati Sumedang Gaspol Penguatan Peran Mitra Dapur MBG untuk Dorong Ekonomi Lokal Sumedang













