News

Hari Jadi Sumedang 448 : Sidik Jafar Pimpin Paripurna Istimewa DPRD

6
×

<font dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><font dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Hari Jadi Sumedang 448 : Sidik Jafar Pimpin Paripurn</font></font>a Istimewa DPRD

Share this article

hallosumedang – Perayaan Hari Jadi Sumedang 448 jadi momen penting yang bukan cuma seremoni, tapi juga ajang refleksi arah pembangunan ke depan. Acara ini dikemas lewat Rapat Paripurna Istimewa DPRD Sumedang yang dipimpin langsung oleh Ketua DPRD, Sidik Jafar, pada Selasa, 22 April 2026, di ruang rapat DPRD Sumedang.

Rapat ini dihadiri berbagai tokoh penting, mulai dari jajaran anggota DPRD Kabupaten Sumedang, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir, Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan, hingga Wakil Bupati Sumedang Fajar Aldila. Nggak cuma itu, turut hadir juga anggota DPR RI dari Dapil Jabar IX Jefry Romdonny, perwakilan DPRD Provinsi Jawa Barat, Bupati Majalengka, serta sejumlah perwakilan kepala daerah dari wilayah sekitar.

Suasana rapat terasa khidmat, tapi tetap penuh makna. Salah satu agenda utamanya adalah pemaparan sejarah berdirinya Sumedang yang kini sudah genap berusia 448 tahun. Momen ini jadi pengingat kalau perjalanan panjang daerah ini nggak lepas dari perjuangan para leluhur yang telah membangun fondasi budaya, sosial, dan pemerintahan sejak dulu.

Dalam sambutannya, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menyampaikan apresiasi kepada pimpinan dan anggota DPRD. Ia menyoroti pentingnya hubungan yang harmonis antara legislatif dan eksekutif selama ini. Menurutnya, kolaborasi yang solid jadi kunci utama dalam menjalankan roda pemerintahan dan memastikan program berjalan efektif.

Ia juga menegaskan bahwa peringatan Hari Jadi Sumedang bukan sekadar perayaan tahunan. Lebih dari itu, ini adalah bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus penghormatan terhadap warisan budaya dan perjuangan para pendahulu di tanah Sumedang Larang.

Tema yang diangkat tahun ini, “Simpatina Kadeuleu, Karampa, Karasa”, punya makna yang cukup dalam. Tema ini menekankan bahwa setiap program pembangunan harus bisa terlihat hasilnya, terukur secara nyata, dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Jadi bukan sekadar wacana atau proyek di atas kertas.

See also  Sumedang Cyber City! Tiang Pintar Multifungsi Mulai Beroperasi Rabu Besok

Dony menekankan bahwa pembangunan harus hadir sebagai solusi, bukan sekadar formalitas. Program yang dijalankan pemerintah daerah diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara konkret. Ini jadi semacam pengingat juga, kalau ukuran keberhasilan bukan hanya dari angka atau laporan, tapi dari dampak langsung yang dirasakan warga.

“Tidak hanya hadir sebagai program tetapi hadir sebagai solusi atas kebutuhan rakyat,” tandasnya.

Kalimat tersebut jadi highlight penting dalam peringatan tahun ini. Pesannya jelas: masyarakat butuh hasil, bukan janji. Pemerintah dituntut untuk lebih responsif, adaptif, dan fokus pada kebutuhan riil di lapangan.

Kalau dilihat dari konteks sekarang, tema ini juga relevan banget. Di tengah berbagai tantangan pembangunan, mulai dari ekonomi, infrastruktur, hingga kesejahteraan sosial, pendekatan yang lebih human-centered memang dibutuhkan. Artinya, kebijakan harus benar-benar berpihak dan menyentuh kehidupan masyarakat sehari-hari.

Perayaan Hari Jadi Sumedang ke-448 ini sekaligus jadi momentum evaluasi. Apa yang sudah dicapai? Apa yang masih perlu diperbaiki? Dan ke mana arah Sumedang ke depan? Semua pertanyaan itu seolah dirangkum dalam satu forum penting ini.

Dengan sinergi antara DPRD dan pemerintah daerah yang terus dijaga, harapannya Sumedang bisa terus berkembang jadi daerah yang nggak cuma maju secara fisik, tapi juga kuat secara sosial dan budaya. Nilai-nilai lokal tetap dijaga, tapi tetap adaptif dengan perkembangan zaman.

Di usia yang hampir setengah milenium ini, Sumedang punya modal besar untuk terus melangkah. Tinggal bagaimana semua pihak bisa konsisten menjalankan peran masing-masing, dengan fokus utama: kesejahteraan masyarakat.

Sebagai penutup, Hari Jadi Sumedang 448 bukan cuma soal angka usia, tapi tentang perjalanan panjang, kerja sama, dan komitmen untuk terus berkembang. Dengan semangat “Simpatina Kadeuleu, Karampa, Karasa”, diharapkan setiap langkah pembangunan benar-benar membawa perubahan nyata bagi masyarakat Sumedang.