hallosumedang – Tadarus Al-Qur’an Bapenda Sumedang jadi pemandangan rutin selama bulan Ramadan. Sejak awal puasa, para pegawai di lingkungan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Sumedang memulai hari dengan membaca Al-Qur’an bareng-bareng sebelum masuk ke agenda kerja. Rutinitas ini bukan cuma soal ibadah, tapi juga jadi cara nyetel ulang mindset biar kerja lebih tenang, fokus, dan penuh tanggung jawab.
Suasana religius terasa di Mushola Bapenda Sumedang pada Rabu, 25 Februari 2026, pagi. Puluhan pegawai tampak duduk rapi sambil melantunkan ayat demi ayat Al-Qur’an secara berjamaah. Mereka datang lebih awal, menyiapkan diri, lalu tadarus bareng sebelum masuk ke meja kerja masing-masing. Di jam-jam awal kerja, vibe kantor terasa lebih adem dan khusyuk.
Kegiatan tadarus Al-Qur’an Bapenda Sumedang ini bukan muncul tiba-tiba. Program ini jadi bentuk tindak lanjut dari Surat Edaran Bupati Sumedang Nomor 16 Tahun 2026 tentang seruan ibadah selama bulan suci Ramadan 1447 Hijriyah. Lewat edaran itu, seluruh pegawai muslim di lingkungan Pemkab Sumedang dianjurkan membaca atau tadarus Al-Qur’an secara tartil, sekaligus memahami maknanya melalui aplikasi e-office di menu “Berkhidmat” sebelum mulai kerja.
Sekretaris Bapenda Kabupaten Sumedang, Mia Rohmiatin Supriatna, menegaskan kalau pihaknya serius menindaklanjuti arahan tersebut. Menurut dia, rutinitas ini bukan sekadar formalitas, tapi upaya membangun budaya kerja yang lebih berimbang antara urusan dunia dan spiritual.
“Alhamdulillah, para pegawai di Lingkungan Bapenda ternyata dapat mematuhi seruan itu. Tadarus Al-Qur’an seperti ini, rutin kami laksanakan setiap hari sebelum kami memulai aktivitas kerja,” kata Mia Rohmiatin.
Ia menjelaskan, kebiasaan tadarus Al-Qur’an ini diharapkan bisa bantu pegawai lebih siap secara mental sebelum menghadapi beban kerja harian. Dengan memulai hari lewat doa dan bacaan ayat suci, pegawai diharapkan lebih sabar, fokus, dan profesional saat melayani masyarakat. Rutinitas ini juga dinilai relevan dengan semangat Ramadan yang menekankan pengendalian diri, empati, dan kejujuran.
Selain berdampak ke sisi personal, tadarus Al-Qur’an Bapenda Sumedang juga punya efek ke hubungan antarpegawai. Duduk bareng di mushola, membaca ayat suci, dan saling menyapa sebelum kerja bikin suasana kantor terasa lebih cair. Jarak antarjabatan jadi lebih tipis, komunikasi lebih enak, dan rasa kebersamaan makin kerasa. Ini penting buat menjaga kerja tim tetap solid, apalagi di instansi yang urusannya bersentuhan langsung dengan pelayanan publik.
Mia juga menekankan kalau tadarus bukan cuma agenda musiman di bulan Ramadan. Menurutnya, kebiasaan baik ini diharapkan bisa ninggalin jejak positif dalam pola kerja pegawai ke depannya. Walau Ramadan berakhir, nilai-nilai yang dilatih selama sebulan penuh diharapkan tetap kebawa, mulai dari disiplin waktu, kebiasaan refleksi diri, sampai cara melayani masyarakat dengan hati.
“Semoga, kegiatan tadarus Al-Qur’an yang kami laksanakan ini dapat mengetuk pintu langit, agar setiap langkah pengabdian kami menjadi amal ibadah. Semoga keberkahan Ramadan senantiasa menyertai langkah kita dalam melayani masyarakat Sumedang,” tutur Mia Rohmiatin.
Rutinitas tadarus Al-Qur’an Bapenda Sumedang ini juga jadi contoh kecil bagaimana instansi pemerintah bisa mengisi Ramadan dengan kegiatan positif tanpa mengganggu produktivitas. Justru, dengan memulai hari lewat ibadah, ritme kerja terasa lebih tertata. Pegawai datang lebih pagi, suasana kantor lebih kondusif, dan energi kerja terasa lebih stabil.
Di tengah tuntutan pelayanan publik yang makin tinggi, pendekatan seperti ini bisa jadi cara sederhana buat menjaga keseimbangan antara kinerja dan ketenangan batin. Ramadan bukan alasan buat kendor kerja, tapi momentum buat upgrade sikap kerja. Bapenda Sumedang mencoba ngasih contoh bahwa ibadah dan profesionalitas bisa jalan bareng, bukan saling ganggu.













