hallosumedang – Safari Ramadan DPRD Sumedang jadi momen penting buat deketin diri ke warga. Kali ini, anggota dewan dari Daerah Pemilihan (Dapil) 5 turun langsung ke Masjid Al Falah, Dusun Mekarjaya, Desa Cileles, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Agenda ini bukan cuma sekadar silaturahmi Ramadan, tapi juga ajang serap aspirasi sekaligus penyaluran bantuan.
Dalam kegiatan tersebut, DPRD Sumedang menyerahkan bantuan Rp12 juta kepada Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Falah. Bantuan itu ditujukan buat mendukung operasional masjid dan berbagai aktivitas keagamaan masyarakat sekitar. Jadi bukan cuma datang, foto-foto, lalu selesai. Ada kontribusi nyata yang ditinggalkan.
Beberapa nama anggota DPRD dari Dapil 5 ikut hadir dalam Safari Ramadan ini. Di antaranya H. Warson, Herman Habibullah, Ricky Kadarsyah, dr. Iwan Nugraha, dan Lady Puspita. Kehadiran mereka jadi bukti kalau agenda ini memang digarap serius, bukan formalitas tahunan.
Kegiatan Safari Ramadan DPRD Sumedang sendiri digelar serentak di enam dapil yang ada di Kabupaten Sumedang. Jadi di waktu yang sama, masing-masing dapil punya agenda kunjungan ke wilayahnya sendiri.
Perwakilan dari Fraksi PKB, Herman Habibullah, menjelaskan kalau konsep tahun ini sedikit beda dari sebelumnya. Biasanya, seluruh anggota DPRD yang totalnya 50 orang turun bareng ke berbagai titik. Tapi sekarang sistemnya dibagi per dapil.
“Berdasarkan rapat Badan Musyawarah, Safari Ramadan tahun ini dilaksanakan per dapil. Jadi hari ini serentak di enam dapil yang ada di Kabupaten Sumedang,” kata Herman saat ditemui di sela kegiatan, Rabu 4 Maret 2026.
Safari Ramadan DPRD Sumedang bukan cuma agenda simbolik. Herman menegaskan kalau kegiatan ini juga jadi ruang buat mendengar langsung apa yang dirasakan dan dibutuhkan masyarakat.
Warga bisa menyampaikan keluhan, harapan, sampai usulan pembangunan. Namun, Herman juga mengingatkan bahwa proses pembangunan daerah tetap harus mengikuti aturan yang berlaku. DPRD tidak bisa serta-merta langsung mengeksekusi usulan tanpa prosedur.
Menurutnya, setiap rencana pembangunan wajib masuk lewat mekanisme musyawarah perencanaan pembangunan atau musrenbang. Prosesnya berjenjang, mulai dari tingkat dusun, desa, kecamatan, hingga kabupaten.
“Pembangunan wilayah harus melalui usulan masyarakat dalam musrenbang dari tingkat dusun sampai tingkat kabupaten. DPRD pada prinsipnya mengetahui aspirasi masyarakat, tetapi prosesnya harus melalui mekanisme tersebut,” ujarnya.
Artinya jelas, DPRD bisa menyerap aspirasi, tapi tetap harus mengikuti sistem perencanaan yang sudah ditetapkan. Jadi alurnya tetap tertib dan transparan.
Dalam kesempatan itu, Herman juga mengingatkan soal peran utama DPRD. Lembaga legislatif punya tiga fungsi penting, yaitu legislasi (membuat peraturan daerah), anggaran, dan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan.
Lewat Safari Ramadan DPRD Sumedang, para anggota dewan ingin menjelaskan langsung ke masyarakat soal kerja mereka. Apalagi belakangan ini, di media sosial sering muncul opini yang mempertanyakan kinerja DPRD.Herman menyebut, jangan sampai muncul persepsi negatif tanpa memahami tugas dan fungsi yang sebenarnya.
“Jangan sampai muncul anggapan seperti yang viral di media sosial bahwa masyarakat mempertanyakan kerja DPRD. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kami menyapa masyarakat dan konstituen di dapil masing-masing,” kata Herman.
Dengan turun langsung ke dapil, komunikasi jadi lebih terbuka. Warga bisa bertanya langsung, dan anggota dewan juga bisa memberi penjelasan tanpa perantara.
Salah satu poin penting dalam Safari Ramadan DPRD Sumedang di Jatinangor ini adalah penyerahan bantuan Rp12 juta kepada DKM Masjid Al Falah. Dana tersebut diharapkan bisa membantu kebutuhan operasional masjid, mulai dari kegiatan ibadah sampai aktivitas sosial keagamaan lainnya.
Bagi masyarakat, bantuan seperti ini tentu terasa manfaatnya. Apalagi di momen Ramadan, kebutuhan kegiatan keagamaan biasanya meningkat. Masjid jadi pusat aktivitas warga, dari buka puasa bersama, tarawih, sampai pengajian.
Langkah ini juga menunjukkan bahwa Safari Ramadan DPRD Sumedang bukan sekadar agenda politik, tapi punya sisi sosial yang nyata.
Secara keseluruhan, Safari Ramadan DPRD Sumedang di Jatinangor jadi ruang temu antara wakil rakyat dan masyarakat. Aspirasi bisa disampaikan, bantuan bisa diberikan, dan komunikasi dua arah bisa terbangun.
Di tengah derasnya kritik dan opini di media sosial, pendekatan langsung seperti ini penting. Masyarakat bisa melihat kerja dewan secara nyata, bukan cuma dari potongan informasi di internet.
Ke depan, publik tentu berharap Safari Ramadan DPRD Sumedang tidak berhenti di seremoni tahunan saja. Aspirasi yang sudah diserap perlu dikawal sampai benar-benar masuk dalam proses musrenbang dan pembahasan anggaran.
Karena pada akhirnya, Safari Ramadan DPRD Sumedang bukan cuma soal kunjungan, tapi tentang bagaimana suara warga benar-benar sampai dan diperjuangkan lewat jalur yang sesuai aturan.













